PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

^N225 14283.72-112.32 – -0.78% ^FTSE 6725.82+4.48 – +0.07% ^HSI 22775.971-30.609 – -0.13% ^KS112042.32-5.82 – -0.28% ^IXIC3940.129-3.232 – -0.08% ^JKSE 4555.492-35.046 – -0.76% ^JKLQ45 764.511-8.308 – -1.08% CLK12.NYM N/A – N/A PAL 1.07+0.0015 – +0.16% PLG 2.00-0.02 – -1.74% COCO 2.64-0.025 – -1.00% GCJ12.CMX N/A – N/A WP Stock Ticker



Kontak Perkasa | Kurang Apa Sih Jakarta Sampai Ibu Kota Harus Pindah?

Kurang Apa Sih Jakarta Sampai Ibu Kota Harus Pindah?

jakartaKontak Perkasa – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memindahkan ibu kota ke Kalimantan. Inisiasi yang sudah pernah dicetuskan sejak era pemerintahan Ir. Sukarno ini kembali muncul karena Jakarta dinilai sudah tidak layak apabila tetap dipaksakan sebagai ibu kota Indonesia seterusnya.

Berdasarkan dokumen gagasan rencana dan kriteria desain ibu kota baru dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), pertumbuhan penduduk di Jakarta sangatlah tinggi. Oleh sebab itu, konsentrasi penduduk paling besar yakni di Jakarta, dan juga Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur).

Dari dokumen tersebut juga menuliskan bahwa Jakarta masuk ke dalam urutan ke-9 kota terpadat di dunia menurut World Economic Forum tahun 2017.

Kemacetan merupakan hal lazim di Jakarta. Hampir setiap hari, baik di hari kerja maupun hari libur Jakarta selalu ‘diselimuti’ kemacetan. Indeks kemacetan Jakarta berada pada peringkat ke-7 dari 403 kota yang di survei oleh Tomtom di 56 negara pada tahun 2018.

Untuk melalui kemacetan tersebut, masyarakat perlu melakukan perjalanan selama 2-3 jam atau 2-5 jam perjalanan pulang-pergi setiap harinya, terutama untuk bekerja. Hal tersebut mau tak mau harus ‘ditelan’ masyarakat setiap harinya karena pusat perekonomian berada di Jakarta juga.

Dengan kemacetan ini juga menyebabkan komunikasi dan koordinasi antara kementerian lembaga tidak efektif. Pasalnya, menurut survei Pantazi pada tahun 2015, kinerja kemacetan di Jakarta terburuk yakni ada 33.240 stop-start index.

Dampak terparah yakni dengan kemacetan tersebut, kerugian ekonominya meningkat dari Rp 56 triliun per tahun di 2013 menjadi Rp 65 triliun di tahun 2017 berdasarkan data World Bank.

Dengan tingginya mobilitas masyarakat menggunakan angkutan pribadi, tingkat pencemaran udara di Jakarta masuk peringkat ke-10 di dunia pada hari Selasa kemarin, 20 Agustus 2019 berdasarkan data dari AirVisual. Kemarin tepatnya pukul 16.05 WIB, menunjukkan kualitas udara Jakarta berada pada 94 alias moderat.

Kondisi air di Jakarta juga begitu memprihatinkan. 96% air sungai di Jakarta sudah tercemar berat.

Jakarta memiliki potensi gempa yang cukup rawan. Wilayah Jakarta terancam oleh aktivitas gunung api seperti Gunung Krakatau dan Gunung Gede. Jakarta juga berpotensi gempa-tsunami Megathrust Selatan Jawa Barat dan Selat Sunda, serta gempa darat Sesar Baribis, Sesar Lembang, dan Sesar Cimandiri.

Bahkan, awal Agustus lalu tepatnya 2 Agustus 2019, Jakarta mengalami gempa yang berasal dari Banten. Kala itu, gempa terjadi pada pukul 19.03 WIB. Pusat gempa ada di kedalaman 10 km. Pusat gempa ada di 147 km arah barat daya Sumur, Banten. Gempa ini terjadi akibat pergerakan lempeng Indo-Australia.

Di Jakarta, gempa terasa lebih dari dua menit dan membuat masyarakat di beberapa wilayah berhamburan ke luar ruangan atau gedung karena gempa yang dirasa cukup kuat.

[print_thumbnail_slider]