PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Deretan Saham Apik di Tengah Memudarnya January Effect

Deretan Saham Apik di Tengah Memudarnya January Effect

e49ed69f-4153-498b-a71d-0aeee17e67e7_169PT KP Press – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,04 persen dari 6.373 menjadi 6.307 pada perdagangan pekan lalu. Padahal, dana asing Rp746,757 miliar tercatat masih masuk ke pasar saham.

Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan aksi beli asing tidak mampu menyelamatkan indeks karena IHSG tak lagi ditopang oleh pelaku asing. Ia menyebut indeks tertekan karena investor dalam negeri ‘kompak’ melego saham baik itu untuk mengambil untung (profit taking) atau meminimalisir kerugian (cut loss).

Ia menilai koreksi bersifat wajar karena kenaikan pada Januari ini sudah lumayan signifikan. Untuk diketahui, pada penutupan 2020, indeks ditutup di level 5.979.

Namun, indeks berbalik melejit ke level 6.504 pada pertengahan Januari lalu.

“Indeks dari awal tahun ini sudah kencang naiknya, dari 5.900-an dan sempat ke 6.500. Itu jadi sebab banyak retail lokal yang profit taking, sebagian ada yang cut loss juga,” jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/1).

Untuk pekan terakhir Januari, meski January Effect mulai memudar, namun ia mengaku melihat peluang kenaikan jika diikuti oleh sentimen pemberitaan positif dari dalam negeri. Namun, jika sepi sentimen ia memproyeksikan koreksi tidak akan signifikan.

Proyeksinya, indeks hanya turun ke kisaran level 6.100-6.200.

Dia berharap indeks bisa bertahan di level tersebut. Pasalnya jika menembus level support, ia khawatir IHSG bisa kembali bablas ke level di bawah 6.000.

Ia menyebut salah satu sentimen penopang indeks pada pekan ini adalah rilis laporan keuangan (lapkeu) emiten untuk kinerja kuartal IV 2020 dan laporan tahunan.

Normalnya, pada Januari jarang ada emiten yang menebar lapkeu. Biasanya rilis mulai dilakukan pada Februari dan Maret.

Tapi, selama pandemi covid-19 BEI memberikan kelonggaran kepada emiten untuk melaporkan kinerjanya hingga April mendatang.

Meski begitu, ia memprediksi sejumlah emiten seperti, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI akan merilis lapkeu pada akhir Januari ini.

Kalau lapkeu BMRI dirilis pekan ini dan menunjukkan kinerja apik, Suria melihat ini akan menjadi efek domino ke saham perbankan lainnya dan membuat sektor perbankan menguat.

Sektor perbankan sendiri merupakan salah satu penggerak utama IHSG. Jika perbankan mencetak kinerja hijau, peluang indeks untuk bertumbuh juga terbuka lebar.

“Biasanya kalau rilis lapkeu cepat, antisipasinya bagus. Kalau (lapkeu BMRI) bagus, bisa jadi pemicu ke sektor perbankan juga,” lanjutnya.

Selain itu, penopang lainnya berasal dari pengumuman pemerintah atas beberapa isu yang menjadi antisipasi publik seperti pembentukan holding BUMN Ultra Mikro antara PT BRI (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT PNM (Persero).

Serta pengumuman nama direksi dana abadi atau Sovereign Wealth Fund/SWF.

Suria menyatakan antisipasi investor akan kedua isu tersebut cukup tinggi. Ia yakin jika diikuti pemberitaan positif, saham-saham terkait juga akan ikut menikmati imbasnya.

Baca Juga : Bitcoin ‘Bikin Sakit’, Lebih Baik Pilih Emas

Selain itu, saham perbankan BUMN akan diuntungkan dari pembentukan holding BUMN Ultra Mikro, yakni BBRI. Sedangkan, isu SWF bakal membuat sektor konstruksi terutama BUMN Karya menjadi menarik.

Ia optimis isu SWF akan mampu mengantarkan saham-saham BUMN Karya seperti WSKT, PTPP, ADHI, dan WIKA ke harga Rp2.000-an.

Lebih lanjut, Suria menilai tahun ini akan menjadi tahunnya komoditas, terutama untuk nikel. Karena itu, ia merekomendasikan membeli saham INCO dan ANTM untuk jangka panjang dengan strategi beli di harga bawah (buy on weakness).

Dia mengatakan ANTM bisa dikoleksi saat harga menyentuh 2.700 dan INCO di level 6.000.

Kemudian, dia juga menyebut BBNI menarik untuk dikoleksi karena valuasinya masih murah, pada perdagangan pekan lalu emiten ditutup di 6.275. Samuel Sekuritas memasang harga target untuk BBNI di level 8.500.

Sementara, Kepala Riset Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menilai perdagangan lesu pekan lalu dikarenakan beberapa sektor penggerak seperti farmasi, pertambangan, dan konstruksi mengalami tekanan.

Namun, ia memproyeksikan perdagangan pekan ini akan lebih baik dari pekan lalu dan bakal terjadi rebound.

Dia meramal indeks akan mulai pulih dan menguji level 6.450-6.650, dengan level support di 6.200-6.150.

Sepakat dengan Suria, Robert juga merekomendasikan saham sektor perbankan terutama saham BUMN, yakni BBNI dan BMRI. Dia memasang harga target untuk BMRI di rentang 7.500-7.700 dan BBNI di rentang 6.500-7.000.

“Sektor perbankan diperkirakan dapat menopang pergerakan indeks,” tutupnya.