PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Daftar Saham Pilihan Kala Indeks Mulai Bergairah

Daftar Saham Pilihan Kala Indeks Mulai Bergairah

56d86ae0-af89-4f47-a4d5-f7ddee475d4b_169PT KP Press – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan lalu menguat 2,35 persen ke 5.461. Tercatat, asing melakukan beli bersih sebesar Rp4,47 triliun.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai indeks berpotensi melanjutkan reli. Pasalnya hampir tak ada sentimen yang berpotensi menjegal IHSG.

Sejumlah sentimen penopang seperti optimisme vaksin corona Pfizer, perbaikan pertumbuhan ekonomi dalam negeri, hingga telah berakhirnya Pemilihan Presiden (Pilpres) AS disebut dia masih ampuh dalam menyokong pergerakan indeks.

Meski indeks sempat memerah pada perdagangan Kamis (12/11), ia menyebut koreksi bersifat wajar karena aksi ambil untung (profit taking) investor.

“Sentimen yang membuat indeks reli dalam 2 pekan terakhir ini cukup kuat, sehingga kami melihat sentimen sifatnya jangka panjang. Kami melihat ini trennya masih tren bullish,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/11).

Namun, ia tak menampik bahwa aksi aksi untung sempat mengganggu psikolog pasar. Tengok saja perdagangan akhir pekan (13/11) saat indeks sempat keok sepanjang hari dagang meski berhasil menukik dan menutup pekan di zona hijau.

Jika pasar tak dikejutkan oleh pemberitaan negatif, Alfred optimistis indeks masih akan menguat didorong oleh fundamental pasar saham yang kuat.

Selama angka penyebaran covid-19 relatif stabil, dia meramal indeks akan menikmati pertumbuhan meski tak langsung melesat ke posisi awal tahun di level 6.000-an.

Dia memperkirakan sepanjang tahun ini IHSG akan pelan-pelan merangkak naik ke kisaran 5.700.

“Yang membuat indeks turun di bawah level 6.000 itu adalah faktor covid-19. Jadi nanti tentu ketika covid-19 tuntas itu yang akan menjadi tenaga untuk IHSG bisa di atas 6.000,” imbuhnya.

Selain itu, terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS tahun depan dilihat Alfred sebagai sinyal positif bagi pasar keuangan. Karena, selain potensi perang dagang China-AS akan mereda, guyuran stimulus fiskal pun dsinyalir akan jauh lebih besar di bawah pemerintahan Biden.

Baca Juga : Bitcoin ‘Bikin Sakit’, Lebih Baik Pilih Emas

Dengan mengantongi alasan-alasan tersebut, ia yakin dana asing masih akan mampir ke pasar dalam negeri. Ia menyarankan investor untuk membidik saham-saham lapis satu yang pemulihannya masih belum maksimal.

Contohnya, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang masing-masing masih terkoreksi sebesar 22,4 persen dan 12,3 persen dari pembukaan awal tahun 2020.

Namun, untuk investor yang mengincar untung lebih tebal, ia menyarankan memantau saham-saham lapis dua (second liner) dengan catatan saham yang dibidik memiliki fundamental baik.

Pekan ini, sektor perbankan lapis dua menjadi pilihan Alfred, saham pilihan dia adalah PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk atau Panin (PNBN).

Kedua emiten perbankan yang dinilainya memiliki kinerja lumayan baik ini dibanderol dengan harga target masing-masing 310 dan 1.000 untuk BBKP dan PNBN berturut-turut.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menyebut meski Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan secara resmi RI terjebak dalam resesi sejak kuartal III 2020, indeks sepertinya acuh dan malah terus menanjak.

Melihat pola krisis keuangan sebelumnya, ia yakin indeks masih akan melanjutkan pemulihan meski ekonomi Indonesia terperosok ke jurang resesi.

Selain melihat pola krisis keuangan yang ada, dia menilai tren hijau juga didorong oleh sikap forward looking (progresif) investor yang lebih berfokus pada pemulihan ekonomi di tahun depan.

Lebih lanjut, ia bilang Biden tampaknya akan mengeluarkan stimulus fiskal yang jauh lebih besar dibandingkan Trump. Melebarnya belanja pemerintah AS ini dinilai masih akan menekan nilai tukar dolar AS, dengan demikian harga komoditas dan negara eksportir komoditas seperti Indonesia pun akan diuntungkan.

Terlebih, dengan anomali iklim La Nina yang masih akan betah mengganggu sektor perkebunan hingga awal tahun depan.

“Ini harusnya meningkatkan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan minyak kedelai karena terganggunya pasokan,” ucapnya seperti dikutip dari risetnya.

Oleh arena itu, dia merekomendasikan sektor perkebunan seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

Selain itu, dia juga menyarankan investor untuk memantau sektor konsumer dengan saham pilihan duo Indofood, yakni INDF dan ICBP.

Lalu, ia juga melihat peluang di sektor pertambangan dengan kenaikan permintaan baja dari China untuk mendukung program konektivitas ‘Belt and Road’. “Kedua, kami yakin meningkatnya perkembangan baterai kendaraan listrik akan juga meningkatkan permintaan nikel,” imbuhnya.

Saham pilihan Mirae untuk sektor ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

 

Tinggalkan Balasan