PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Daftar Saham yang Bisa Jadi Pilihan Usai Libur Panjang

Daftar Saham yang Bisa Jadi Pilihan Usai Libur Panjang

56d86ae0-af89-4f47-a4d5-f7ddee475d4b_169PT KP Press – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan lalu ditutup menguat 0,31 persen ke level 5.128. Pelaku asing masih mencatatkan jual bersih di seluruh pasar sebesar Rp190,79 miliar.

Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menyebut indeks dalam negeri diuntungkan oleh momen libur panjang. Pasalnya, pasar utama Wall Street anjlok akibat kasus covid-19 yang kian mengkhawatirkan.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup kehilangan 157,51 poin atau turun 0,59 persen menjadi 26.501, diikuti S&P 500 yang anjlok 40,15 poin atau 1,21 persen ke 3.269. Sementara, indeks Nasdaq Composite mengalami penurunan tertajam yaitu 274 poin atau 2,45 persen menjadi 10.911.

Tercatat, saham-saham teknologi seperti Amazon, Apple, Facebook, dan Netflix kompak rontok seiring dengan menanjaknya kasus covid-19 di AS. Mengutip CNN, kasus positif virus corona menembus angka 9 juta per Jumat (30/10) lalu.

“Karena kebetulan kita (IHSG) lagi libur, pasar tidak sempat diapresiasi secara negatif pada pekan lalu karena sudah libur,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/11).

Sedangkan, untuk pekan ini, Lucky menilai pasar akan diwarnai oleh beberapa momen besar yang telah ditunggu-tunggu. Dari luar, sentimen berasal dari pemilu AS pada 3 November besok dan perkembangan penanganan pandemi covid-19.

Pasar modal, menurut Lucky, masih akan cenderung melakukan aksi tunggu hingga hasil pemilu AS diumumkan.

Sementara, di dalam negeri Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan mengumumkan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 pada 5 November mendatang. Meski pertumbuhan kuartal III diramal kembali terkontraksi dan Indonesia dinyatakan memasuki resesi, namun Lucky menilai hal tersebut tak akan menjadi kejutan berarti untuk indeks.

Karena, memang sudah terbentuk ekspektasi RI akan masuk ke jurang resesi. Hanya perihal sedalam apa resesi tersebut.

Secara pribadi, ia menilai pada kuartal III pertumbuhan masih akan minus di sekitar 4 persen karena konsumsi rumah tangga yang merupakan salah satu penyumbang pertumbuhan terbesar masih lesu.

Juga, karena pandemi covid-19 belum terkendali. Ia melihat masih marak terjadi PHK yang berimbas langsung pada daya konsumsi masyarakat.

Oleh karena itu, proyeksi pemerintah di kisaran minus 1 persen sampai minus 2,9 persen dinilainya sangat percaya diri.

“Itu yang menjadi tantangan untuk PDB ke depan, kalau untuk minus 2 persen, saya kira sangat confident,” ujarnya.

Lebih lanjut, melihat kinerja indeks yang tak jauh-jauh dari kisaran 5.000-5.100, Lucky menyebut sentimen vaksin tak seampuh yang diharapkan.

Tak hanya vaksin, sentimen window dressing di akhir tahun pun disebutnya tak akan mengangkat indeks secara signifikan.

Sebagai informasi, window dressing adalah fenomena di mana harga indeks cenderung menguat jelang pergantian tahun akibat perbaikan portofolio para manajer investasi sebelum menutup laporan tahunan. Biasanya, saham-saham berkapitalisasi besar diborong oleh manajer investasi untuk ‘mempercantik’ rapor kinerja.

“Di saat bersamaan, pada November ini sinyal dari window dressing belum terlihat. Pada kenyataannya, indeks masih di kisaran 5.000-an, tertingginya (tahun lalu) adalah 6.300-an,” jelasnya.

Baca Juga : Bitcoin ‘Bikin Sakit’, Lebih Baik Pilih Emas

Karena banyaknya sentimen negatif di pasar, investor berpotensi melarikan dananya ke instrumen investasi lainnya seperti emas, valuta asing (valas), komoditas, dan obligasi. Dengan kondisi itu, ia menyarankan investor untuk mengincar saham-saham yang memiliki underlying emas atau pun bergerak di sektor batu bara yang mendominasi sektor energi.

Dia merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Lucky membanderol harga target saham secara berturut-turut sebesar 1.097, 8.450, 1.170, dan 2.038.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menyebut di awal pekan indeks akan cenderung bergerak terbatas karena aksi tunggu pasar terhadap hasil pemilu di AS. Investor akan lebih mengambil ancang-ancang.

Jika pemilu AS berlangsung kondusif, dia menyebut indeks berpeluang melanjutkan penguatan.

Menurut dia, indeks juga akan ditopang oleh arus modal masuk asing. Melihat tren arus modal akhir-akhir ini, dia optimis selepas Pemilu AS usai, dana asing akan kian deras parkir di dalam negeri.

Faktor penopang lainnya, lanjut Alfred, adalah potensi kontraksi ‘ringan’ kuartal III 2020. Ia menilai jika kontraksi pertumbuhan lebih kecil dari konsensus pemerintah yaitu di kisaran minus 1-2 persen, hal tersebut dapat menjadi sentimen positif.

Bercermin dari realisasi investasi yang masih bertumbuh 1,7 persen selama Januari-September 2020 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, ia menilai peluang pun terbuka lebar.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi yang masuk ke Indonesia hingga kuartal III 2020 mencapai Rp611,6 triliun atau 74,8 persen dari target realisasi tahun ini, Rp817,2 triliun.

Selain itu, faktor lain yang membuat Alfred optimis adalah realisasi anggaran pemulihan ekonomi nasionak (PEN) yang dinilainya cukup baik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat realisasi penyaluran dana penanganan pandemi covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) per 14 Oktober 2020 mencapai Rp344,11 triliun. Jumlahnya setara 49,5 persen dari pagu Rp695,2 triliun.

“Secara keseluruhan, tidak ada yang mengejutkan untuk kuartal III, ada kemungkinan rentang resesi kecil karena dari sisi investasi ada pertumbuhan tipis di kuartal III dan sisi belanja pemerintah juga realisasi PEN sudah cukup bagus,” katanya.

Namun, ia sepakat bahwa konsumsi rumah tangga yang belum pulih akan memberatkan realisasi pertumbuhan. Meski begitu, ia menilai indeks masih mendapat dorongan pada sentimen window dressing di akhir tahun.

Pekan ini ia menyarankan investor untuk memantau sektor-sektor yang tak terlalu terdampak pandemi dan tetap dibutuhkan, seperti sektor konsumer, kesehatan atau farmasi, dan perbankan.

Untuk konsumer, ia menyarankan untuk memantau PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Hingga akhir tahun ini, Alfred mengatakan emiten mampu menguat ke level 7.700.

Selanjutnya, untuk sektor kesehatan ia merekomendasikan saham PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) dengan harga target sebesar 968. Lebih lanjut, untuk PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), ia memasang harga target sebesar 1.677.

Di sektor perbankan, Alfred menyebut pelaku pasar dapat mengoleksi saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI dengan target 6.352.