PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Kontak Perkasa | BJ Habibie di Detik-detik yang Menentukan

BJ Habibie di Detik-detik yang Menentukan

bjKontak Perkasa – BJ Habibie telah meninggal dunia. Pahit manis cerita perjalanan hidup Presiden ke-3 RI yang penuh kesan ini terabadikan dalam banyak buku. Salah satunya dalam sebuah buku berjudul ‘Detik-detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi’, karya BJ Habibie sendiri.

Dalam buku ini, BJ Habibie mengisahkan tentang transisi pemerintahan dari Orde Baru menuju Orde Reformasi. Kisah berawal dari krisis multidimensi yang melanda bangsa Indonesia pada 1997-1998. Krisis memicu pergantian kepemimpinan. Presiden Soeharto yang telah memimpin Indonesia selama 32 tahun menyerahkan tampuk kekuasaan kepada wakilnya BJ Habibie.

Seperti dikutip detikcom, Kamis (11/9/2019), pemerintahan Orde Baru sudah mulai menampakkan kekurangannya sejak masuk dasawarsa 1990-an. Pemerintah yang terlalu sentralistik serta munculnya korupsi, kolusi dan nepotisme menuai sorotan tajam dari masyarakat.

Namun pemerintah bergeming. Kritik dari sejumlah pihak terhadap kinerja pemerintah Orde Baru dianggap angin lalu.

Sampai akhirnya Indonesia mengalami krisis monoter. Krisis menyebabkan sistem perbankan di Indonesia tak berjalan dengan baik dalam rentang waktu yang cukup lama.

Krisis monoter ini juga dilaporkan telah menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran dari 4,68 juta orang pada 1997 menjadi 5,46 juta orang pada 1998. Tak hanya itu, masyarakat juga mulai resah dan takut akibat kenyataan yang terjadi pada masa Orde Baru.

Di tengah krisis itu, Soeharto kembali mendeklarasikan dirinya sebagai presiden periode 1998-2003 pada malam resepsi HUT Golkar ke-33 pada 20 Oktober 1998. Soeharto kemudian terpilih kembali sebagai presiden dalam Sidang Umum MPR 11 Maret 1998.

Hal itu juga kemudian memicu serangkaian aksi di Jakarta dan sejumlah daerah. Puncaknya adalah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Kerusuhan juga menyebabkan sejumlah korban dan ratusan jiwa.

Sementara itu, ketika kerusuhan terjadi Soeharto sedang berada di Mesir untuk mengadakan pertemuan G-15 pada 13-14 Mei 1998. Lalu, Wakil Presiden BJ Habibie menyampaikan pernyataan di Istana agar semua pihak menahan diri.

Setelah mengikuti pertemuan G-15 di Kairo, Soeharto kemudian menyempatkan diri bersilaturahmi dengan masyarakat di Kairo. Dalam pertemuan itu, Soeharto mengatakan siap mengundurkan diri dan tidak mempertahankan kedudukannya dengan kekuatan senjata.

Setelah itu, detik-detik menentukan pun dimulai, setiap momen perubahan dicatat rapih oleh BJ Habibie sebagai berikut:

15 Mei 2019

Presiden Soeharto kembali ke tanah air. Setibanya di Indonesia, Soeharto langsung bertemu dengan Habibie dan sejumlah pejabat lain. Dia menerima laporan mengenai perkembangan situasi keamanan.

18 Mei 1998

Mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat memadati gedung DPR/MPR. Mereka menyerukan reformasi total dan meminta Soeharto mundur.

Aspirasi massa itu diterima oleh DPR. Ketua DPR Harmoko kemudian menyampaikan pernyataan pers terkait situasi nasional.

“Untuk membahas masalah tersebut direncanakan esok harinya, tanggal 19 Mei 1998, pimpinan dewan akan melaksanakan pertemuan dengan pimpinan fraksi-fraksi, dan hasilnya akan disampaikan kepada Presiden Soeharto,” ujar Harmoko seperti dikutip dalam ‘Detik-detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi’.

“Pimpinan dewan menyerukan kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, menahan diri, menjaga persatuan dan kesatuan serta mewujudkan keamanan dan ketertiban supaya segala sesuatu dapat berjalan secara konstitusional,” sambung dia.

19 Mei 2019

Sesuai rencana, pimpinan DPR menggelar rapat konsultasi dengan pimpinan fraksi. Pertemuan sempat ditunda untuk mendengarkan pernyataan Soeharto.

Soeharto saat itu mengundang sejumlah tokoh masyarakat. Mereka yang hadir di antaranya Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Emha Ainun Nadjib, Ma’ruf Amin hingga Nurcholis Madjid.

Soeharto mengatakan jabatan presiden bukanlah hal yang mutlak. Dia mengaku tidak masalah jika harus mundur.

Dalam merespons tuntutan massa, Soeharto juga menyampaikan akan melaksanakan pemilu secepat-cepatnya berdasarkan UU. Dia juga berjanji tidak akan mencalonkan diri lagi. Selain itu, Soeharto akan membentuk kabinet komite reformasi.

“Sekarang kalau tuntutan pengunduran diri itu saya penuhi secara konstitusional, maka harus saya serahkan kepada Wakil Presiden. Kemudian timbul apakah ini juga merupakan jalan penyelesaian masalah dan tidak akan timbul masalah baru. Nanti jangan-jangan wakil presiden juga lantas harus mundur lagi. Kalau begitu terus menerus dan itu menjadi preseden atau menjadi kejadian buruk dalam kehidupan kita berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, dengan sendirinya negara dan bangsa kita akan kacau, seolah-olah tidak mempunyai landasan dalam menjamin kehidupan kita dalam berbangsa dan bermasyarakat,” ujar Soeharto.

20 Mei 1998

Pada pukul 17.45 WIB, Habibie mendapat laporan dari ajudan bahwa Menkeu Fuad Bawazier akan melaporkan sesuatu yang penting. Fuad bertanya mengenai kabar beredar soal mundurnya Habibie.

“Apakah isu yang berkembang, bahwa Pak Habibie bermaksud mengundurkan diri sebagai wakil presiden, benar?” ujar Fuad melalui sambungan telepon.

“Isu tersebut tidak benar. Presiden yang sedang menghadapi permasalahan multikompeks, tidak mungkin saya tinggalkan. Saya bukan pengecut” jawab Habibie.

Setelah itu, Habibie berangkat ke kediaman Soeharto di Jalan Cendana sekitar pukul 19.30 WIB. Habibie ingin mengusulkan mengenai perubahan nama di Kabinet Reformasi.

Perdebatan tak terelakan. Namun Habibie menyerahkan sepenuhnya kepada Soeharto karena penyusunan kabinet merupakan hak prerogatif presiden.

Tak lama berselang, Soeharto memanggil Mantan Sekretaris Negara Saadilah Mursyid untuk segera mengumumkan keputusan presiden mengenai susunan Kabinet Reformasi. Pengumuman itu rencananya akan dilakukan pada Kamis 21 Mei 1998 di Istana.

Selain itu, Soeharto juga berencana untuk mengundang pimpinan DPR. Soeharto akan mundur setelah kabinet dilantik.

“Namun yang menjadi pertanyaan saya saat itu adalah Pak Harto sama sekali tidak menyampaikan alasan mengapa beliau mundur padahal baru saja disusun Kabinet Reformasi bahkan setelah melalui dialog yang cukup seru,” kata Habibie.

Suasana malam itu cukup haru. Soeharto memeluk Habibie dan memberi pesan agar menjalankan tugas dengan baik.

“Laksanakan tugasmu dan waktu tidak banyak lagi,” kata Habibie menirukan pesan Soeharto.

Selepas bertemu Soeharto, Habibie kembali ke rumahnya di Kuningan. Malam itu Habibie tak bisa tidur sebab memantau perkembangan situasi nasional melalui internet dan televisi.

Habibie diingatkan oleh istrinya, Ainun Habibie, agar segera beristirahat namun dia tetap kembali ke meja kerjanya untuk menuliskan sejumlah hal.

21 Mei 1998

Habibie berangkat ke Istana pada pukul 08.30 WIB. Dia didampingi Sintong Panjaitan hingga Jimly Ashshiddiqie.

Habibie melihat langsung momen pengunduran diri Soeharto. Momen itu juga menjadi pengambilan sumpah dirinya menjadi Presiden ke-3 RI.

“Bismillahirohmanirrohim. Berdasarkan Pasal 9 UUD 1945 sebelum memangku jabatan Presiden, saya akan melaksanakan kewajiban konstitusional saya ialah mengucapkan sumpah sesuai dengan agama yang saya anut sebagai berikut. Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden RI sebaik-baiknya dan seadil-adilnya memagang teguh UUD dan menjalankan segala undan-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya berkati kepada nusa dan bangsa,” kata Habibie membacakan sumpah.

Tinggalkan Balasan