PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Kontak Perkasa | Meneropong Ekonomi RI Pasca Pilpres 2019

Meneropong Ekonomi RI Pasca Pilpres 2019

RIKontak Perkasa – Ekonomi menjadi salah satu isu yang paling diperhatikan dalam kontestasi Pilpres 2019. Masalah-masalah ketenagakerjaan, infrastruktur, utang hingga nasib rupiah menjadi isu-isu yang paling sering muncul ke permukaan.

Namun siapapun presidennya, proyeksi ekonomi ke depan dipercaya tak banyak berubah. Sederet tantangan menunggu bagi siapapun presiden yang terpilih nanti.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bima Yudhistira mengatakan siapapun Presiden yang terpilih nantinya bakal menghadapi tekanan dari global yang masih penuh ketidakpastian untuk mencapai target ekonomi yang diinginkan.

“Presiden terpilih pasti akan sibuk dalam 1-2 tahun pertama menghadapi gejolak ekonomi global. Baru pada tahun ketiga dan keempat bisa reformasi struktural ekonominya,” katanya dalam acara Forum Tebet di bilangan Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019).

Dia bilang, ekonomi global akan menjadi tantangan besar dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. Sejumlah isu di negara maju menjadi efek yang harus diantisipasi oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Hal ini bisa dilihat dari proyeksi pertumbuhan global tahun ini yang disebut International Monetary Fund (IMF) dan World Bank akan melambat atau bahkan makin suram. Kebijakan-kebijakan proteksionisme yang diambil sejumlah negara pun menjadi kekhawatiran selanjutnya.

“Saya dapat kabar beberapa negara juga sedang lakukan proteksionisme, seperti Filipina. Kita khawatir akan banyak negara yang memilih proteksi-proteksi dagang, sehingga bikin kita khawatir ke kinerja ekspor,” kata Bhima.

Penentuan menteri bidang ekonomi yang dipilih oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih menjadi hal yang menentukan arah ekonomi pasca pilpres 2019. Hal ini diyakini menjadi penentu reaksi pasar terpilihnya presiden baru.

“Pasar sebenarnya akan berspekulasi di bulan November pada saat penentuan menteri-menteri di kabinet,” katanya.

Setidaknya ada tiga posisi menteri yang akan menentukan nasib Indonesia lima tahun ke depan. Di antaranya adalah menteri keuangan, menteri koordinator perekonomian, hingga menteri perencanaan dan pembangunan nasional (PPN)/Kepala Bappenas.

“Siapa Menteri Keuangannya, Menko Perekonomiannya, Bappenasnya dan lain-lain. Jadi Pilpres belum selesai sampai April tapi di November,” katanya.

Pergerakan rupiah juga akan ditentukan pada dua waktu kritis tahun ini. Bulan Maret dan November akan menjadi waktu penentuan seperti apa pergerakan rupiah ke depan.

“Ada dua waktu yang keramat di mana rupiah bisa balik arah. Pertama, bulan Maret karena jelang pilpres dan pengumuman laporan keuangan emiten kuartal pertama. Kalau indeks bagus, mungkin indeks kita bisa loncat ke 6.600. Lalu di November, karena penentuan menteri di kabinet ekonomi,” kata Bhima.

Rupiah sendiri saat ini masih menunjukkan pergerakan yang cukup stabil di kisaran Rp 14.000-14.200-an/US$. Hal ini diyakini imbas dari lesunya ekonomi global sehingga bermuara pada mengalirnya dana asing ke pasar keuangan Indonesia.

“Ekonomi global yang sebenarnya lesu ada peluang bagus karena dana-dana asing mencari pasar yang berkembang dengan imbal hasil yang menarik. Kinerja emiten yang masih underperform, jadi mereka akan masuk ke pasar Indonesia. Karena kita juga menawarkan bunga utang salah satu yang tertinggi di Asia. Beli surat utang Indonesia jadi menarik,” ungkapnya.

“Artinya ekonomi global dalam jangka pendek ini dari sisi pasar keuangan ternyata menguntungkan buat rupiah karena derasnya inflow,” tambah Bhima.