PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Kontak Perkasa | Peralatan Canggih Pelacak Misteri Kotak Hitam Lion Air JT 610

Peralatan Canggih Pelacak Misteri Kotak Hitam Lion Air JT 610

lionKontak Perkasa – Hari ketiga pencarian, kotak hitam pesawat Lion Air JT 610 belum terlacak. Alat-alat canggih dikerahkan mencari kotak hitam yang menjadi kunci untuk menyingkap misteri jatuhnya pesawat di perairan Karawang, Jawa Barat itu.

Tim gabungan telah bekerja nonstop 24 jam tanpa henti untuk mencari badan pesawat, korban maupun kotak hitam Lion Air. Sejumlah alat pelacak sinyal dari kotak hitam pesawat diterjunkan.

Salah satunya, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menurunkan alat bernama USBL Transponder. Alat tersebut diletakkan di ujung tiang yang dimasukkan ke laut. Teknologi tersebut diharapkan mampu melacak sinyal yang dikeluarkan kotak hitam.

“Di deck unit USBL, artinya dari transponder itu akan ditransfer masuk ke software dalam laptop namanya Apos. Sekarang fungsi transponder ini untuk membantu mengetahui posisi si Boeing itu, ya pada intinya sama cara kerjanya seperti ping locator, dia akan menangkap sinyal dari kotak hitam di dasar laut,” jelas Engineer Instrument BPPT Cecep Sudjana.

USBL transponder akan memberikan tanda di aplikasi komputer jika menangkap sinyal dari kotak hitam pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 tersebut. Tanda yang diberikan berupa titik-titik yang terlihat di layar komputer.

Selain itu, Kapal Riset Baruna Jaya I milik BPPT menggunakan teknologi multibeam echosounder dan side scan sonar. Kedua alat itu dipakai untuk mencari keberadaan kotak hitam (black box) dan badan pesawat di dasar laut.

Selanjutnya data-data berupa dugaan objek dasar laut akan diinformasikan kepada KNKT. Selanjutnya, pencarian black box dilakukan menggunakan ping locator. Ping locator merupakan alat penerima sinyal dari black box. Tim juga menurunkan remotely operated vehicle (ROV), robot penyelam yang mempunyai kamera. Kapal ini sebelumnya pernah diikutsertakan dalam pencarian kotak hitam pesawat AirAsia QZ 8501 pada awal 2015.

Perahu karet dari Kapal Baruna Jaya I milik BPPT telah menurunkan alat ping locator. Namun, Investigator Penerbangan KNKT Apib K Wahyu Wiwing Prayogi mengatakan ping locator tersebut belum memberikan hasil. Tetapi alat ping locator atau hydrophone mulai memberi respons suara.

“Infonya ada beberapa titik ya, dari rubber boat tadi ada beberapa yang kita dapat suaranya cuma begitu kita memperjelas suara dengan berpindah kemudian hilang suaranya jadi samar samar lagi bahkan tidak terdengar,” jelas Apib.

Tidak hanya itu, ada KRI Rigel adalah kapal Bantu Hidro-oseanografi (BHO) dengan komandan Letkol Laut (P) Agus Triyana. Dengan teknologi untuk bawah laut, KRI Rigel akan membantu mencari kotak hitam (black box) pesawat.

“KRI Rigel akan melakukan deteksi kedalaman full covered di posisi jatuhnya pesawat Lion Air pada koordinat 5° 46.15000′ S – 107° 7.16000′ E dan area sekitarnya,” ujar Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro dalam keterangan tertulis Pushidrosal, Selasa (30/10/2018).

Untuk melakukan deteksi kedalaman full covered itu, KRI Rigel akan menggunakan Multibeam Echosounder EM2040 dan Side Scan Sonar. Teknologi tersebut untuk mencitrakan badan pesawat dan High Precision Acoustic Positioning (HIPAP) dengan Frekuensi A dan B.

Kapal TNI AL itu merupakan kapal jenis Multi Purpose Research Vessel (MPRV) dengan peralatan survei canggih di antaranya Side Scan Sonar, Automatic Weather Station, Echosounder Multibeam laut dalam dan Singlebeam, peralatan Conductivity Temperatureand Depth (CTD), serta Gravity Cores.

Tak hanya itu, KRI Rigel juga dilengkapi Boat Sounding (SV) yang dilengkapi dengan berbagai peralatan berteknologi tinggi. Diharapkan dengan pengerahan kapal perang jenis ini dapat membantu pencarian serpihan badan pesawat.

Hari ini, Rabu (31/10/2018), Badan SAR Nasional (Basarnas) akan memperluas pencarian pesawat Lion Air JT 610 hingga radius 15 mil laut (nautical mile). “Untuk rencana kegiatan kita besok, kita akan perluas, besok adalah hari ketiga. Kalau hari pertama kemarin radiusnya 5 nautical mile, hari kedua hari ini kita sudah 10 nautical mile, dan besok hari ketiga kita memasuki luas pencarian 15 nautical mile,” ujar Kepala Deputi Operasi Basarnas Nugroho Budi.

Pesawat Lion Air JT 610 berjenis Boeing 737 MAX 8 itu berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Bangka Belitung dengan membawa 189 orang di dalamnya, Senin (29/10). Pesawat terbang pukul 06.20 WIB kemudian hilang kontak pukul 06.30 WIB. Puing-puing pesawat ditemukan di perairan sebelah utara Karawang, Jawa Barat.