PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Kontak Perkasa | Individu Gagap Teknologi Rentan Disusupi Peretas

Individu Gagap Teknologi Rentan Disusupi Peretas

retasKontak Perkasa – Kejahatan siber saat ini mulai berkembang dari awalnya menjadikan institusi sebagai target, hingga kini perorangan. Kurangnya pengetahuan mengenai teknologi membuat orang semakin rentan terhadap serangan siber.

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim mengatakan kurang peka individu terhadap keamanan siber merupakan sasaran empuk bagi hacker untuk melakukan penetrasi pengambilan data rahasia individu, khususnya data nasabah.

Edwin mengatakan belum lagi, memang lebih mudah menembus individu dibandingkan dengan sebuah lembaga, misalnya lembaga keuangan yang telah memiliki tim keamanan teknologi informasi.

“Targetnya kejahatan siber kini lebih mengarah ke individu. Pasalnya individu itu paling lemah, dari individu mudah dipenetrasi oleh hacker. Apalagi kalau individunya gagap teknologi,” kata Edwin di bilangan Thamrin, Jakarta Rabu (30/5).3

Oleh karena itu, untuk menjaga kerahasiaan seluruh data informasi dari pembobolan, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Tindakan preventif harus dilakukan, misalnya masyarakat sesungguhnya bisa mencegah kejahatan siber lewat phising.

Masyarakat harus selalu bertanya ke operator telepon atau institusi terkait apabila memang diminta informasi-informasi yang sifatnya rahasia, misalnya pin atau username.

“Baru-baru ini ada surat sebaran elektronik dari BCA yang mengatakan akan dilakukan pemblokiran rekening apabila tidak melakukan pendaftaran. Padahal itu phising kalau mendaftar di tautan link yang disertakan. Belum lagi dalam surat sebaran tersebut ditandatangi oleh Wakil Presiden Direktur BCA sendiri. Seharusnya telepon dulu ke operator untuk konfirmasi benar atau tidak surat sebaran itu,” kata Edwin.

Menurut Edwin, masih banyak masyarakat belum tahu betapa berbahayanya kejahatan siber. Karena paham bahayanya kejahatan siber, Edwin sangat curiga ketika seseorang meminjam telepon genggamnya. Pasalnya, telepon genggam itu banyak informasi rahasia Edwin.

“Kita punya musuh yang tidak terlihat. Kalau terlihat ya lain cerita, kita tidak bisa aman tapi nyaman. Kalau aman pasti harus ada yang dikorbankan. Rumusnya gini, tidak ada makan siang gratis. Tidak ada uang gampang. Pasti kalau uang gampang ada apa apanya,” kata Edwin.

Edwin lebih lanjut juga menyarankan bagi pengguna Wifi gratis agar tidak mengakses mobile banking, atau akun lainnya yang menyimpan data krusial.

Pasalnya Wifi gratis itu setidaknya meminta akun email atau informasi rahasia lainnya untuk verifikasi. Edwin mengatakan informasi tersebut tidak diketahui digunakan untuk apa.

“Rumus pertama zero trust dalam konteks keamanan siber. Asumsinya apa yang bisa dilakukan dalam pembajakan ini luar biasa. Setidaknya kita antisipasi, Free Wifi bahkan bisa mencuri data informasi,” kata Edwin.

Edwin juga menjelaskan keamanan siber perusahaan juga tergantung dari kedewasaan para nasabahnya itu sendiri. Pasalnya data nasabah yang bobol bukan berarti keamanan perbankan bisa ditembus.

Bisa saja data nasabah itu dibobol karena kesalahan para nasabah ketika membagikan data informasi sembarangan. Edwin mengatakan ketatnya keamanan untuk menghadapi kejahatan siber akan membuat para nasabah tidak nyaman.