PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Kontak Perkasa | Memprediksi Jatuhnya Stasiun Antariksa China ke Bumi

Memprediksi Jatuhnya Stasiun Antariksa China ke Bumi

satelitKontak Perkasa – Tiangong-1 dinyatakan akan jatuh ke Bumi pada April nanti. Meski demikian, belum diketahui waktu dan posisi tepatnya stasiun luar angkasa China tersebut akan jatuh.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan, pihaknya baru bisa memprediksi lokasi jatuhnya Tiangong-1 jika sudah berada di ketinggian sekitar 120 kilometer.

“Akurasi prakiraan jatuhnya akan makin akurat setelah ketinggiannya mendekati 120 kilometer. Artinya, hanya beberapa jam sebelumnya,” kata Thomas saat dihubungi detikINET, Senin (19/3/2018).

Kendati demikian, Thomas melanjutkan, posisi jatuhnya Tiangong-1 juga tergantung dari waktu ketika benda tersebut mulai masuk fase re-entry atau kembali ke atmosfer Bumi.

“Tetapi ketidakpastian +/- dua menit pun berarti rentang jarak sampai ratusan kilometer. Jadi, perkiraan yang bisa dilakukan oleh semua badan antarika di dunia, termasuk LAPAN, hanyalah perkiraan lintasan orbit terakhir atau potensi wilayah sebaran pecahan antariksa yang membentang ratusan kilometer,” tuturnya.

Sejauh ini, kata Thomas, Tiangong-1 diprediksi jatuh sekitar awal April. Namun, kemungkinan terjadinya perubahan juga masih bisa terjadi.

“Ketidakpastian disebabkan oleh variasi kerapatan atmosfer yang dipengaruhi aktivitas Matahari dan medan magnet Bumi. Kerapatan atmosfer itu yang menyebabkan perubahan lanjut penurunan orbitnya,” kata Thomas.

Maka dari itu, LAPAN akan terus menginformasikan perkembangan terkini melalui situs miliknya terkait jatuhnya Tiangong-1.

Pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, stasiun luar angkasa pertama Negeri Tirai Bambu tersebut mengorbit di ketinggian 350 kilometer.

Ketika itu, Tiangong-1 merupakan muatan dari Long March 2F yang diluncurkan di Jiuquan Satellite Launch Center, China.

Stasiun luar angkasa berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter dan dilengkapi bentengan panel surya di kedua sisinya ini, pernah ditempati para penjelajah antariksa dari China.

Namun sejak 2016, Tiangong-1 sudah tidak dapat dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Stasiun luar angkasa China itu berpotensi jatuh ke Bumi di wilayah pada rentang 43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan, termasuk Indonesia di dalamnya.

Pada saat jatuh, Tiangong-1 yang punya bobot 8,5 ton tidak akan dalam kondisi utuh, melainkan berkeping-keping karena sudah memasuki atmosfer Bumi.