PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Kontak Perkasa | Serangan Siber ‘Lumpuhkan’ Bandara Internasional Ukraina

Serangan Siber ‘Lumpuhkan’ Bandara Internasional Ukraina

siber

Kontak Perkasa – Serangan siber menghantam bandara internasional Ukraina dan tiga media Rusia lainnya pada Selasa (24/10). Serangan bernama ‘BadRabbit’ itu diungkap ahli IT di Jerman dan dua negara Eropa lainnya, seperti dilansir dari AFP.

Malware kali ini ditengarai yang terbesar sejak ‘NotPetya’ yang juga pernah dialami kedua negara sebelum menjalar ke negara lainnya di seluruh dunia pada Juli lalu.

Ahli pengamanan siber AS dan Rusia mengatakan virus komputer itu juga menjangkau Turki dan Bulgaria, di samping Jerman dan beberapa negara lainnya, tapi masih dalam skala kecil.

Bandara Internasional Odessa, Ukraina lewat laman Facebooknya mengungkapkan ‘sistem informasi’ mereka berhenti beroperasi pada siang hari.

Kantor berita Rusia, Interfax mengirimkan data terakhir pada pukul 14:13 siang waktu setempat sebelum ia berhenti. Tak ada layanan yang terekam hingga pukul 23:00 dan situs internet juga masih tak bisa diakses.

Pakar pengamanan siber Rusia pada AFP mengatakan portal berita Fontanka di kota kedua terbesar Rusia, Saint Petersburg dan media lain yang tidak bisa diungkap juga mengalami hal serupa, tak bisa diakses.

Yevgeny Gukov, dari perusahaan pengamanan Group-IB IT mengatakan malware yang terjadi menggunakan skema enkripsi yang menghambat analis dalam memecah kodenya.

Kasperksy Lab mengatakan ‘infeksi dari virus ini melalui sejumlah peretasan situs media Rusia.’

“Berdasarkan investigasi kami, virus tersebut ditujukan untuk menyerang jaringan perusahaan, dengan menggunakan metode yang sama dengan serangan NotPetya,” ungkap Kaspersky Lab dalam pernyataan resminya.

Grup pengamanan siber AS, EST menambahkan, mereka mendeteksi ‘jenis baru dari virus yang dikenal juga dengan sebutan Petya.”

Merunut kembali ke belakang, serangan ‘NotPetya’ pada Juli lalu, merupakan modifikasi dari virus ‘Petya’ yang menyerang tahun sebelumnya. Saat itu, para pelaku meminta uang dari korban sebagai pertukaran data mereka.