PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Kontak Perkasa Futures | Harga Minyak Dunia Berpeluang Naik

PT. Kontak Perkasa Futures

Kontak Perkasa – Harga minyak dunia telah membaik sejak delapan bulan terakhir. Terhitung harga minyak mencapai 20 dollar AS di Januari 2016 namun kemudian mengalami reli kenaikan hingga di kisaran 50 dollar AS per barel di Oktober.

Namun, fundamental ekonomi yang mengalami guncangan dalam beberapa minggu terakhir kurang menyakinkan harga minyak untuk tetap kokoh di harga tersebut. Alih-alih menguat menuju 60 dollar AS per barel, harga minyak malah melorot ke kisaran 40 dollar AS per barel.

Panos Mourdoukoutas, kontributor Forbes, dalam tulisannya menyebutkan bahwa harga fundamental ekonomi masih akan berguncang hingga beberapa saat ke depan. Akibatnya, harga minyak bisa saja turun menuju harga di Januari.

Menurut dia, ada sejumlah sebab tambahan yang membuat harga minyak akan terus melorot. Pertama, memudarnya kesepakatan pembatasan produksi minyak oleh sejumlah negara OPEC.

Faktanya, sejumlah negara OPEC seperti Iran, Libya, Irak dan Nigeria malah menaikkan produksi minyaknya, bukan menurunkan, sejak pertemuan OPEC di Aljazair, menurut laporan industri terkini.

Sebab kedua, yakni hadirnya Amerika Serikat (AS) sebagai “swing producer” minyak yang baru, menggantikan posisi Arab Saudi, di pasar minyak mentah dunia.

AS bersiap mengisi setiap kekosongan suplai minyak, dan menjadi penentu harga minyak. Caranya, dengan mengaktifkan semua rig minyak.

Di Juli, harga minyak hampir menyentuh level 50 dollar AS per barel. Rig minyak aktif selama empat pekan menurut perusahaan layanan minyak di AS, Baker Hughes. Tren ini naik antara September dan Oktober, saat harga minyak masih di 50 dollar AS per barel.

Secara keseluruhan, 165 rig minyak kembali beroperasi sejak akhir Januari 2016, yang membantu menaikkan hasil produksi minyak AS dan memangkas impor minyak asing dalam beberapa minggu terakhir.

Peran baru AS tersebut, diperkirakan akan semakin menguat di bawah pemerintahan baru yang diperkirakan akan mempermudah regulasi penambangan migas (fracking regulations).

Sebab ketiga, yang menambah buruk dampak ke harga minyak yakni permintaan minyak dunia masih akan melambat. Sebab pertumbuhan ekonomi dunia masih melambat di bawah bayang-bayang meningkatnya utang negara-negara.

Mourdoukoutas mengatakan, akumulasi utang dunia terjadi sejak 2008-2009 saat krisis finansial (Great Recession), yang merupakan utang tertinggi yang diakumulasi sebelum krisis dengan bantuan Federal Reserve dan bank sentral lainnya.

Sebab keempat, masih karena AS. Yakni suku bunga jangka panjang AS naik signifikan, mencapai 2,13 persen untuk yield treasury note. Dan suku bunga jangka pendek diperkirakan akan mengikuti kenaikan tersebut, seiring ekspektasi kenaikan suku bunga di Desember oleh Federal Reserve, atau The Fed.

Akibatnya, sejumlah produk finansial berbasis minyak turun drastis. Seperti dikutip dari Yahoo Finance, produk iPath S&P GSCI Crude Oil untuk harga satu bulan turun 15,26 persen.

Sementara untuk Energy Select SPDR Fund turun 1,61 persen dan Market Vector Oil Services turun 3,27 persen.

(Sumber Kompas.com)

PT KONTAK PERKASA FUTURESPT. KONTAK PERKASA FUTURES