PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Gerak USD/JPY sudah diprediksi oleh analis | Kontak Perkasa Futures

kontak perkasa

Kontak Perkasa. Pada perdagangan Jumat (28/10) lalu, yen berhasil mencuri keunggulan di tengah nilai dollar Amerika Serikat (AS) yang tengah menguat karena probabilitas kenaikan suku bunga di akhir tahun makin besar.

Mengutip Bloomberg, pada penutupan Jumat (28/10) pasangan USD/JPY terlihat melemah sebesar 0,52 persen ke level 104,74. Sebelum mengalami pelemahan pada Jumat (28/10) kemarin, tercatat dollar Amerika serikat (AS) sempat menguat tajam terhadap yen.

Menurut catatan Nizar Hilmy, analis SoeGee Futures, memang pergerakan dollar AS ini sudah menyentuh level tertinggi selama tiga bulan.

Menguatnya nilai dollar AS sebelum terkoreksi pada Jumat (28/10) sendiri diakibatkan oleh proyeksi pasar yang masih tinggi terhadap kenaikan tingkat suku bunga acuan The Fed yang diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun ini.

Hal itu diperkuat dengan optimistisnya pelaku pasar terhadap rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang dirilis Jumat (28/10) malam waktu Jakarta. Memang, menurut Biro Analisa Ekonomi AS, PDB negeri Paman Sam itu tercatat tumbuh sebanyak 2,9 persen, di atas proyeksi para analis yang hanya memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,5 persen

Nizar melihat, sebenarnya hal ini berbanding terbalik dengan kebijakan moneter yang dijalankan di Negeri Sakura. “Belum ada kebijakan berarti yang dilakukan BoJ, apalagi, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda belum mau melonggarkan kebijakan ekonomi,” terang Nizar.

Meskipun demikian, Nizar sudah mengira pasangan ini akan jatuh. “Penguatannya memang sudah tajam, sehingga patut diwaspadai adanya koreksi,” kata dia. Meskipun the greenback mengalami koreksi di hadapan yen, Nizar masih yakin penguatan indeks dollar masih tetap kuat akibat pelaku pasar masih yakin dengan kenaikan suku bunga The Fed di akhir tahun nanti.

Wahyu menambahkan, di tengah isu pemotongan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang belum pasti, yen sendiri juga bernasib agak serupa, yaitu penggelontoran stimulus oleh BoJ. “Isu ini sama tidak pastinya dengan pemotongan ECB. Hanya wacana yang diharapkan pasar. BoJ sendiri masih hati-hati,” terang dia.

Dari semua tren yang ada baik di Eropa maupun di Jepang, Wahyu memperkirakan pasangan EUR/JPY akan sulit bangkit dalam jangka panjang, bahkan masih terancam pelemahan meski pada Jumat (28/10) pasangan EUR/JPY mampu naik sejak mendekati level 112 pada 21 Oktober lalu.

“Euro mampu bangkit dalam jangka pendek karena pasar kembali wait and see pasca pertemuan ECB lalu dan tidak mau untuk membuang-buang euro lagi untuk sementara ini,” terang dia.

Apalagi, pada Senin (31/10) ini akan ada data-data ekonomi Eropa yang keluar dan diprediksi tumbuh. Tengok saja data penjualan ritel Jerman bulan September yang diproyeksi tumbuh sebanyak 0,2 persen dari bulan sebelumnya. Juga indeks harga konsumen Eropa bulan September yang diprediksi akan tumbuh sebesar 0,5 persen dari bulan sebelumnya.

(Sumber Kontan.co.id)

PT KONTAK PERKASA FUTURESPT. KONTAK PERKASA FUTURES