PT Kontak Perkasa Futures Sudirman

Monthly Archives: Juli 2019

Kontak Perkasa | Perang Dagang AS-China Masih Hantui Ekonomi RI

Perang Dagang AS-China Masih Hantui Ekonomi RI

dagang

Kontak Perkasa – Hasil rapat evaluasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyebutkan kondisi pasar keuangan di Indonesia masih stabil. Bahkan beberapa indikator perekonomian mengalami perbaikan.

Namun, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) tetap waspada terhadap dampak gejolak ekonomi global. Salah satunya adalah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Banyak sektor yang terkena imbas ke depannya dari ketidakpastian global. Hal itu juga yang membuat pemerintah mewaspadainya.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melaporkan hasil rapat reguler triwulan II-2019. Lembaga yang terdiri dari pejabat lintas instansi tersebut menyimpulkan bahwa sistem keuangan di tanah air dalam keadaan normal.

Seluruh anggota KSSK yang terdiri atas Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut menggelar rapat pada Jumat malam pekan lalu.

KSSK memantau sejumlah aspek sistem keuangan di dalam negeri dari mulai perkembangan ekonomi, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan hingga penjaminan simpanan. Kondisi-kondisi tersebut menjadi dasar penilaian kondisi sistem keuangan RI secara keseluruhan saat ini.

“Dari hasil rapat tersebut hasil pantauan dari sisi ekonomi RI, sisi moneter, fiskal, penjaminan simpanan. Rapat stabilitas keuangan triwulan II terjaga dengan baik. Dalam rapat tersebut stabilitas keuangan domestik tetap baik dan ditopang industri perbankan yang sehat dan pasar keuangan domestik yang kondusif,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani di Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Apa saja yang diwaspadai? Pertama, masih berlangsung ketegangan dagang China dan Amerika Serikat (AS) yang melebar ke negara-negara eksportir.

Kedua, International Monetary Fund (IMF) memangkas pertumbuhan dunia 0,5% dari PDB. Ketiga, tensi tinggi perdagangan antara Jepang dan Korea Selatan.

Keempat, ekonomi global yang lemah dan ketegangan yang terjadi telah menekan harga komoditas termasuk minyak dan gas.

Selain eksternal, faktor internal yang perlu diwaspadai adalah defisit neraca perdagangan yang masih ‘menghantui’ ekonomi Indonesia.

Oleh karena itu, kata Sri Mulyani, KSSK terus memperkuat koordinasi antar lembaga dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Kebijakan dilakukan fiskal di Kementerian Keuangan kemudian moneter di bawah BI dan makroprudensial dan keuangan dan lembaga keuangan di bawah OJK, tentu dengan LPS sesuai undang-undang,” kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan sebesar 2,46% secara year to date (ytd).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keperkasaan rupiah terhadap dolar AS dikarenakan keberhasilan bank sentral Indonesia menjaga defisit transaksi berjalan (CAD) dan banyaknya investasi masuk ke tanah air.

“Nilai tukar terjaga stabil, year to date mengalami apresiasi atau penguatan 2,64% dan nilai tukar rupiah bergerak stabil dan cenderung menguat,” kata Perry di gedung BI, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Rupiah terapresiasi, lanjut Perry dikarenakan ada modal masuk ke pasar saham tanah air sebesar Rp 193,2 triliun per 26 Juli 2019. Adapun, capital inflow tersebut menyasar ke portofolio.

Selain itu, Perry juga mengungkapkan bahwa sejumlah indikator perekonomian nasional juga terjaga dan stabil. Seperti inflasi yang sebesar 3,2% atau masih dalam batas target.

BI juga akan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional dengan beberapa kebijakan sektor moneter. Seperti giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 bps pada Juni 2019 dan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada bulan ini. Sebelumnya juga bank sentral menurunkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5,75%.